Babinsa Koramil 04/Letung Berikan Edukasi Penanganan PMK kepada Peternak

Tampak Babinsa Koramil 04/Letung saat memberikan edukasi kepada salah satu pemilik ternak sapi. (foto:ist)

ANAMBAS – Setelah mendapat pembekalan bimtek selama 3 hari dari BNPB pusat di hotel CK di Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, Babinsa Serda Syamsul Fahri dan Serda Solihin anggota Koramil 04/Letung-Kodim 0318/Natuna langsung melaksanakan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat yang memiliki ternak hewan seperti sapi, kerbau, kambing dan domba serta babi agar tahu bahaya Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada hewan ternak, sehingga masyarakat mengenal PMK dan cara penanganannya, di Desa Batu Berapit, Kecamatan Jemaja, Kabupaten Kepulauan Anambas, Selasa (27/9/2022).

Pada kesempatan itu, Serda Syamsul Fahri dan Serda Solihin menjelaskan, bahwa bahaya penyakit PMK sangat merugikan perekonomian Indonesia, sehingga pemerintah menetapkan lima langkah utama sebagai strategi kebijakan multi level, dengan tujuan untuk membatasi penyebaran wabah dan melindungi pembatasan antar kota dalam negeri maupun antar negara.

Adapun kelima strategi yang digunakan pemerintah yakni:
1. Penerapan biosecurity yang ketat. Merupakan pertahanan pertama dalam penanganan PMK melalui desinfektan atau dekontaminasi hewan, area peralatan manusia, dari dan keluar peternakan serta mengawasi akses pada kawasan rawan PMK.

2. Pengobatan hewan ternak yang terinfeksi PMK. Pengobatan melalui obat-obatan dan vitamin untuk mengobati gejala klinis yang muncul, serta meningkatkan kekebalan hewan ternak.

3. Melaksanakan vaksinasi kepada hewan ternak. Upaya ini untuk pencegahan melalui sistem kekebalan hewan, diprioritaskan zona merah dan zona kuning. Pada wilayah zona hijau diberlakukan strategi biosecurity agar kawan tersebut bebas dari PMK tanpa vaksinasi, termasuk wilayah Anambas dan Natuna bebas PMK.

4. Pemotongan hewan ternak bebas PMK. Persyaratan pemotongan dilakukan sesuai persyaratan penanganan PMK.

5. Pengujian menjadi langkah selanjutnya dari strategi penanganan PMK. Untuk konfirmasi kasus PMK ternak dapat dilakukan pengujian mengunakan teknologi RT-PCR yang dilakukan jaringan laboratorium Kementrian Pertanian

“Bahaya PMK bisa membunuh hewan, PMK bisa cepat menyebar bisa melalui tempat minum, tempat makan, kandang ternak, melalui air liur dan dapat menyebar melalui udara,” jelasnya.

Serda Syamsul Fahri mengatakan, bahwa penyakit yang disebabkan oleh virus PMK harus segera ditangani.

”Untuk mencegah penularan PMK tersebut, harus rajin merawat ternak, kebersihan kandang juga benar-benar dijaga dan diperhatikan dengan rajin menyemprot desinfektan,” katanya.

Serda Solihin menambahkan, virus PMK cepat menyerang hewan ternak yang berkuku dua, seperti sapi, domba, kerbau, babi dan kambing.

“Namun, virus PMK tidak berpengaruh kepada manusia,” ucapnya.

Sementara, Plh. Danramil 04/Letung-Kodim 0318/Natuna, Serma Fery Antony Sihombing saat dikonfirmasi mengatakan, sebagai aparat kewilayahan pihaknya akan terus bersinergi dengan semua pihak serta terus bersosialisasi dengan masyarakat untuk bersama-sama mengantisipasi penularan penyakit PMK pada hewan ternak.

“Sebagaimana kita ketahui bahwa penyakit PMK pada hewan ternak cukup berbahaya bahkan di sejumlah daerah sudah banyak hewan ternak dimusnahkan lantaran digerogoti penyakit tersebut, kita harapkan penyakit ini jangan sampai ke wilayah Anambas, khususnya Kecamatan Jemaja,” kata Plh. Danramil 04/Letung kepada media ini.

Plh. Danramil 04/Letung juga menyampaikan, bahwa dirinya sudah memerintahkan kepada seluruh Babinsa supaya terus berkoordinasi dan sosialisasi dengan para peternak terkait antisipasi PMK. (KG/WNY)