Lampu Hijau Pariwisata Sudah Menyala, Rombongan Besar Turis India Tiba di Batam via Singapura

Rombongan turis asing asal India, berfose dengan latar Welcome to Batam, Sabtu (14/5/2022)

BATAM – Serombongan besar turis asal India menandai mulai menyalanya lampu hijau pariwisata Batam di tingkat internasional. Momen ini diyakini sebagai langkah awal yang baik, dengan harapan, beberapa hambatan yang muncul sebagai dampak pandemi global ditiadakan.

Menurut Irvinder Singh, dari agensi perjalanan wisata Singapura, pihaknya membawa 82 wisatawan berkebangsaan India, yang datang ke Singapura untuk menghabiskan masa liburan panjang (long weekend) di Batam.

“Biasanya orang Singapura membatasi masa liburan ke Batam satu atau dua hari saja, kita ingin ini diperpanjang hingga empat atau lima hari,” kata Irvinder Singh kepada media di Restoran khas India Maharaja, Batam Center, Sabtu (14/5/2022).

CEO Josapa Travel, Ripka Sembiring (tengah), bersama pemandu wisata, saat menunggu kedatangan turis India, di Pelabuhan Internasional Feri, Batam Center. (F: Josapa)

Para turis tersebut dijadwalkan berada di Batam selama tiga hari dua malam, dimulai dengan city tour di Pulau Batam, dan keesokan harinya mereka akan dibawa untuk menikmati keindahan dan fasilitas yang ada di Kepri Coral. Dalam perjalanan melintasi Jembatan Barelang, rombongan turis akan dibekali dengan edukasi tentang Yoga.

Dengan masa tinggal yang panjang, menurut Irvinder para turis akan menyinggahi banyak spot wisata dan belanja, sehingga ikut menggairahkan banyak sektor penunjang yang ada seperti restoran, hotel, pusat belanja, dan transportasi.

Selama di Batam para turis India tersebut di-organize oleh Josapa Travel. Dibawa dengan dua bis mereka singgah di Restoran Maharaja untuk makan siang. Hal ini diakui oleh Rafiq, pemilik restoran tersebut sebagai rombongan terbesar turis asing yang singgah sejak membekunya pariwisata Batam akibat Covid-19.

Maharaja sebagai salah satu ikon wisata kuliner di Batam, menurut Rafiq pernah didatangi lebih dari 1.000 orang, pihaknya berharap momen tersebut akan kembali terulang.

Senada, CEO Josapa Travel, Ripka Sembiring berharap momen kejayaan wisata Batam kembali terulang, terutama dengan kedatangan turis India ini, baginya adalah titik awal yang baik. Dengan catatan kata Ripka, semua hambatan yang ada menyusul regulasi lalu lintas orang asing yang ketat saat Covid-19 memuncak, kembali ditiadakan.

Direktur BTB Edi Sutrisno bersama Agensi Turis Singapura, Irvinder Singh.

Dijelaskan, salah satu hambatan yang muncul adalah ongkos feri dari dan ke Singapura yang melonjak hingga Sin$ 80 dari sebelumnya hanya  Sin$ 30. Selain itu keberangkatan ke Batam, oleh Pemerintah Indonesia yang masih mewajibkan tes antigen. Padahal dari Batam menuju Singapura sudah bebas tes, bagi penumpang dengan syarat minimal dua kali vaksin.

“Kita akan memberikan pelayanan yang terbaik kepada para turis, dan membuktikan kepada mereka bahwa untuk datang ke Batam itu mudah dan nyaman. Sebelumnya mereka sempat diarahkan ke Malaka, namun kita berhasil meyakinkan mereka untuk datang ke Batam,” papar Ripka.

Ripka berharap, kedatangan turis asing dalam jumlah besar seperti ini dapat kembali memberikan multiflier effect kepada ekonomi Batam, baik di pusat belanja, layanan di dalam mall seperti massage, kuliner, hotel dan jasa transportasi.

Seperti diketahui, kondisi wisata secara global pernah tak bergerak selama dua tahun akibat disapu badai pandemi global. Namun ketika pandemi melandai menjadi endemi global, masih ada hambatan yang tersisa. Untuk menyegarkan kembali sektor pariwisata, dibutuh regulasi pendukung.

Menurut catatan Direktur Eksekutuf Batam Tourism Board, Edi Sutrisno, pasca dibukanya pintu masuk kunjungan asing via Batam, tidak sampai 1.000 visitor yang datang ke Batam, dari sebelumnya mencapai rata-rata 150.000 kunjungan per bulan.

Terkait turis asing asal India tersebut, Edi menyebut hal ini sebagai good sign dan terobosan untuk kembali bergairahnya dunia pariwisata. Menurut Edi para turis tersebut masuk melalui Visa on Arrival (VOA) yang dikenakan bea Rp 500 ribu per orang.

Ke depan, dirinya berharap mereka juga diberikan fasilitas Visa-exemption (bebas visa) seperti negara-negara tertentu lainnya. “Semua regulasi sebaiknya dibuat mudah dan pro wisata, ini penting agar dunia wisata yang lesu, dan sekaligus sebagai salah satu andalan kita, kembali bangkit dan melesat seperti sebelumnya,” tutup Edi. KG/R