Louise Darurat vs Covid-19…

dr Louise Owein

Penulis: Iskandar Zulkarnaen, S.IP, M.Phil, Pengamat Sosial

LOUISE Owein nama dokter yang mulai naik panggung meminjam situasi pandemi Covid-19 yang memulai babak baru serangan Delta di Indonesia.

Louise menghentak dengan propaganda mirip mirip Jerinx, yang sangat langka disampaikan oleh seorang yang mengaku dokter.

Logika yang ditampilkan seakan mewakili banyak pendapat dan pertanyaan masyarakat awam. Kita pasti sudah menontonnya, bahkan bisa jadi berkali kali.

Apakah Covid-19 itu nyata? Ataukah makhluk ghaib? Mengapa yang sakitnya masih ringan, ketika sudah masuk perawatan rumah sakit makin memburuk? Dan argumen selanjutnya, sangat menyihir bagi masyarakat awam yang karena kecanggihan teknologi informasi, banyak yang menjadi ahli kesehatan dadakan.

Tapi, kita tidak membahas itu secara mendalam. Kita akan membahas mengapa Louise memunculkan pendapatnya itu, secara massif di tengah periode menaiknya varian Delta di Indonesia dan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) skala Mikro di sebagian provinsi di Indonesia. Apakah ini dirancang?

Sebagai bagian post truth war dalam perpolitikan dalam negeri, ataukah ini rancangan serangan dari dalam oleh kekuatan ssing? Atau memang ini murni perbedaan diagnosa atas situasi kesehatan masyarakat oleh seorang dokter?

dr Louise Owein

Walaupun dalam video perbincangan antara Louise dan Tirta, keduanya dokter, Louise dianggap tidak sah menjadi dokter karena tidak memiliki STR alias surat terdaftar sebagai dokter.

Pendapat Louise menjadi sesuatu yang dianggap atau dirasakan sebagian masyarakat adalah kebenaran yang benar. Sementara, narasi Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan World Health Organization (WHO) dianggap hanya propaganda industri kesehatan belaka.

Benarkah demikian?

Tidak juga.

Dari penelitian singkat, kami mendapati bahwa video narasi pendapat Louise ini sememangnya menjadi viral dan di-share di berbagai platform media sosial.

Impact-nya memang sangat kecil, jika diukur dari berapa banyak yang menyetujui dan mendukung pernyataan Louise ini.

Tapi, kalau diukur dari impak orang-orang yang kemudian bertanya-tanya dan menjadi ragu atas pendapat dan narasi Pemerintah, maka video yang di-share berkali-kali itu telah mencapai targetnya. Mayoritas masyarakat menjadi ragu-ragu, menjadi bertanya-tanya siapakah yang benar?

Walaupun IDI melalui Tirta, telah melayangkan panggilan yang menurut kami akan sia-sia. Bagaimana mungkin, Louise yang bukan anggota IDI dan tidak memiliki STR sesuai klaim Tirta, mau menghadiri panggilan IDI?

Louise bukan bagian dari IDI. Kasus yang mirip dengan perlawanan mantan Menteri Kesehatan, Terawan, yang telah dipecat IDI, sampai sekarang belum diubah, melakukan metode baru dalam melawan pandemi Covid19, tanpa vaksin tapi dengan metode baru berbasis sel dendritik.

Nah, apakah pendapat Louise ini sebenarnya adalah bentuk perlawanan terhadap IDI, ataukah sememangnya menawarkan diagnosis baru dan metode perawatan baru seperti yang ditawarkan Terawan?

Dalam situasi darurat seperti saat ini, mengganasnya varian Delta dan hampir lumpuhnya fasilitas kesehatan akibat membludaknya pasien, Pemerintah perlu mengajak Louise untuk duduk dan membahas secara ilmiah dan berbasis bukti lapangan atas penanganan kasus-kasus konfirmasi positif Covid-19 dan penanganan penyakit penyertanya.

Masalahnya ada lagi ternyata, dan paling penting. Louise tidak percaya Covid-19 itu nyata ada. Lah?