Buku Kisah Perjuangan DBH Migas Kota Dumai Diluncurkan: Dumai Dapat Apa?

Sesi foto bersama usai acara Launching Buku Dumai Dapat Apa? di di Cemara Room, Sonaview Hotel, Kota Dumai, Kamis (1/2/2024).

DUMAI (KG) – Jika sejarah itu tidak ditulis sekarang, maka di lain waktu orang lain akan menulisnya dengan versi mereka sendiri. Sebuah adagium berbunyi, history is written by the victors, sejarah ditulis oleh para pemenang. Dalam konteks ini pemenang sejati itu telah pun menulisnya, mereka adalah Agoes Budianto dengan nama pena Agoes S. Alam dan rekan seperjuangan yang tergabung dalam Tim Perumus Atas Kebijakan-Peralihan Pengelolaan Blok Rokan (TPAK-P2BR) Kota Dumai.

Ibarat Socrates, Agoes mengutus “Plato” untuk merekam jejaknya. Seorang writerpreneur dari Batam, Muhammad Natsir Tahar mendapat daulat untuk mengelaborasi setiap mozaik pemikiran dan perspektif Agoes menjadi sebuah kitab dengan judul Dumai Dapat Apa?: Catatan Historia Perjuangan DBH Migas Kota Dumai dalam Perspektif Agoes S. Alam.

Guru Besar FISIP Unri, Prof. Dr. Yusmar Yusuf, M. Phil, seorang fenomenolog, budayawan, filsuf dan penganut mazhab Sinicism dalam dunia literasi bahkan tidak memberikan catatan apa-apa kecuali sepenuhnya adalah apresiasi.

Dalam sesi bedah buku usai peluncuran yang dipandu MC Rizka Gusti Mirta, pada Kamis, 1 Februari 2024 di Cemara Room, Sonaview Hotel, Kota Dumai, Yusmar mengucapkan keheranannya tentang kolaborasi pikiran berbasis data yang dilakukan dalam proses penulisan sehingga menjadi begitu simetris. Usai membaca habis buku tersebut, tak sebatas membaca tapi melakukan pembacaan dan hasilnya: ini telah memenuhi standar mutu sebuah buku yang ia harapkan dan adalah cara terbaik untuk membuat para pejuang abadi dalam lintasan sejarah.

Selain Prof. Yusmar, sesi bedah buku menampilkan Muhammad Natsir Tahar selaku penulis, Agoes S. Alam sebagai inisiator dan tokoh sentral, kemudian jurnalis dan anggota Dewan Pakar TPAK P2BR Kota Dumai Genot Widjoseno, yang secara bergilir dicecar dengan berbagai pertanyaan bernas oleh Harnata Simanjuntak, sebagai moderator.

Natsir menjelaskan, bahkan untuk adagium history is written by the victors, sejarah ditulis oleh para pemenang, pun tidak benar-benar jelas siapa penciptanya, apakah Napoleon Bonaparte, Winston Churchill, Hermann Göring, atau Adam Driver? Hal ini menegaskan, siapapun penulisnya, ia tidak benar-benar mengibarkannya; menegakkan baliho, sehingga siapa saja bisa merampok ide tersebut di kemudian hari.

“Mungkin sudah jutaan orang yang melihat apel jatuh dari pohonnya, namun hanya Isaac Newton yang mampu menemukan konsep gravitasi dari fenomena tersebut. Tanpa melebih-lebihkan, inilah yang terjadi kepada bang Agoes, yang bisa melihat celah pada Kepmen ESDM Nomor 241 Tahun 2022 sehingga Dumai memperoleh haknya,” papar Natsir.

Dikatakan pula oleh Genot, bahwa momen penulisan dan peluncuran buku ini memiliki nilai strategis agar sejarah penting bagi kota Dumai ini dapat dicatat dengan baik, sekaligus untuk memecahkan kebekuan literasi di tengah masyarakat urban, khususnya Kota Dumai. Kemudian akademisi dan sastrawan Murparsaulian melalui kanal Zoom menyebutkan, buku ini tidak hanya menarik, namun juga telah memenuhi validitas dan standar keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Agoes yang dimintai tanggapan usai acara mengucapkan terimakasih atas kesuksesan acara launching buku tersebut, terutama kepada tim kreatif, Firdaus Cs. Acara yang ditaja Oiketai.com ini menurutnya, dihadiri oleh para tim pejuang yang tergabung dalam TPAK P2BR Kota Dumai, undangan dari berbagai latar belakang profesi, serta mahasiswa.

Buku ini mencatat detail historia derap juang Agoes Budianto sebagai komandan tempur batalion perjuangan Dana Bagi Hasil (DBH) Migas bagi Kota Dumai yang dalam lebih dari dua dasarwarsa lalu tak sedikitpun menetes ke langit Dumai yang secara ironis dijuluki Kota Minyak ini.

Buku yang diterbitkan oleh Focus Publishing Intermedia ini juga telah dilengkapi ISBN dan Barcode Katalog Dalam Terbitan (KDT) dari Perpustakaan Nasional, di tengah ketatnya persaingan untuk memperoleh standar internasional yang berpusat di London, Inggris tersebut. Hal ini disebabkan Indonesia telah menerbitkan ISBN hampir 70 persen dari kuota yang disediakan selama satu dasawarsa sejak tahun 2016. KG/r