LINGGA – Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Desa Keton, Kabupaten Lingga, terus menunjukkan perkembangan positif melalui usaha peternakan ayam petelur yang dikelolanya. Program yang didanai melalui Dana Desa tersebut kini mulai memberikan hasil nyata dengan produksi telur yang dipasarkan setiap hari ke sejumlah toko di wilayah sekitar.
Meski demikian, keberhasilan tersebut masih dihadapkan pada tantangan besar. Tingginya permintaan pasar belum mampu diimbangi dengan kapasitas produksi yang dimiliki BUMDes, sehingga peluang peningkatan pendapatan desa dan masyarakat belum dapat dimanfaatkan secara maksimal.
Kepala Desa Keton, Maulana, mengatakan saat ini BUMDes mengelola sekitar 300 ekor ayam petelur. Dari jumlah tersebut, produksi telur setiap hari berkisar antara enam hingga tujuh sarang.
Menurutnya, hasil produksi tersebut masih belum mencukupi kebutuhan pasar yang terus meningkat. Bahkan, permintaan dari toko-toko langganan mencapai sedikitnya delapan sarang per hari.
“Produksi yang ada sebenarnya masih belum mampu memenuhi permintaan pasar. Dalam sehari, kebutuhan dari toko-toko sedikitnya mencapai delapan sarang, sementara produksi kami baru sekitar enam hingga tujuh sarang,” ujar Maulana kepada media, Jumat (07/08/2026).
Ia menjelaskan, keterbatasan jumlah populasi ayam menjadi faktor utama yang menyebabkan produksi belum bisa ditingkatkan. Di sisi lain, kemampuan BUMDes untuk melakukan pengembangan usaha masih terkendala oleh keterbatasan anggaran, terlebih di tengah kebijakan efisiensi penggunaan Dana Desa yang membuat ruang gerak pemerintah desa menjadi lebih terbatas.
Meski menghadapi berbagai kendala, Pemerintah Desa Keton tetap berkomitmen mengembangkan unit usaha tersebut. Berbagai upaya terus dilakukan, termasuk mencari peluang kerja sama maupun bantuan dari pemerintah agar kapasitas peternakan dapat ditingkatkan.
Menurut Maulana, sektor peternakan ayam petelur memiliki prospek yang sangat baik karena kebutuhan telur di Kabupaten Lingga terus meningkat, sementara pasokan dari pelaku usaha lokal masih terbatas. Kondisi ini menjadi peluang besar bagi BUMDes untuk berkembang sekaligus meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PADes).
“Kami terus mencari jalan alternatif agar usaha ini bisa berkembang. Harapan kami ada bantuan berupa bibit atau indukan ayam petelur sehingga kapasitas produksi dapat ditingkatkan,” katanya.
Ia berharap Pemerintah Kabupaten Lingga maupun organisasi perangkat daerah (OPD) terkait dapat memberikan perhatian terhadap pengembangan usaha produktif yang dijalankan BUMDes Desa Keton. Menurutnya, bantuan penambahan bibit ayam petelur akan menjadi solusi konkret untuk meningkatkan produksi sekaligus memenuhi kebutuhan pasar lokal.
Selain memperkuat ketahanan pangan daerah, pengembangan peternakan ayam petelur juga diyakini mampu membuka peluang kerja, meningkatkan pendapatan BUMDes, serta memberikan dampak ekonomi yang luas bagi masyarakat desa.
“Jika jumlah ayam petelur bisa ditambah, tentu produksi akan meningkat. Dengan begitu kebutuhan pasar dapat terpenuhi, pendapatan BUMDes bertambah, dan manfaatnya akan dirasakan langsung oleh masyarakat melalui peningkatan ekonomi dan kesejahteraan warga,” tutup Maulana.
Usaha peternakan ayam petelur yang dijalankan BUMDes Desa Keton menjadi salah satu contoh pemanfaatan Dana Desa untuk kegiatan produktif yang berorientasi pada pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Dengan dukungan pemerintah dan peningkatan kapasitas usaha, program tersebut diharapkan mampu menjadi salah satu penggerak ekonomi desa sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasokan telur dari luar daerah. (kg/as)
