NATUNA – Ada banyak cara seorang pemimpin menanamkan inspirasi kepada generasi muda. Tidak selalu melalui pidato maupun kegiatan resmi. Terkadang, pesan tentang kepemimpinan, kepedulian, dan cita-cita justru lahir dari percakapan sederhana bersama anak-anak.
Suasana penuh kehangatan itu terlihat saat Komandan Lanud Raden Sadjad (RSA) Natuna, Marsekal Pertama TNI Onesmus Gede Rai Aryadi, S.E., M.M., M.Han., berinteraksi langsung dengan anak-anak TK Angkasa Lanud RSA, Kabupaten Natuna.
Dalam suasana yang jauh dari kesan formal, Danlanud RSA duduk bersama anak-anak. Ia mendengarkan cerita, menjawab rasa ingin tahu mereka, sekaligus bercengkrama dengan penuh keakraban. Senyum dan tawa pun mewarnai pertemuan tersebut.
Namun, ada satu momen sederhana yang justru menjadi perhatian. Di tengah percakapan, seorang anak dengan polos menyampaikan permintaan kepada sang komandan.
“Pak Komandan, buatkan pesawat dari kertas,” pinta anak tersebut.
Permintaan singkat itu seketika menghadirkan suasana hangat. Bagi anak-anak, pesawat bukan sekadar alat transportasi, tetapi sesuatu yang dekat dengan imajinasi dan cita-cita mereka.
Apalagi, mereka berada di lingkungan Lanud yang setiap harinya lekat dengan dunia penerbangan dan kedirgantaraan.
Marsekal Pertama TNI Onesmus Gede Rai Aryadi pun menyambut permintaan tersebut dengan penuh keakraban.
Tidak tampak sekat antara seorang pejabat militer dengan anak-anak. Yang terlihat justru sosok seorang pemimpin yang bersedia meluangkan waktu untuk mendengarkan, berinteraksi, dan memberikan perhatian kepada generasi usia dini.
Momen tersebut mungkin sederhana. Hanya percakapan antara seorang anak TK dengan seorang Komandan Lanud. Namun, di balik kesederhanaan itu tersimpan makna yang cukup besar.
Bagi anak-anak, pengalaman berinteraksi langsung dengan sosok yang memimpin sebuah pangkalan udara dapat menjadi pengalaman yang membekas. Rasa ingin tahu mereka terhadap pesawat dan dunia penerbangan pun mendapat ruang untuk berkembang.
Dari sebuah gambar pesawat, imajinasi anak-anak bisa terbang jauh. Bisa jadi, dari rasa ingin tahu tersebut tumbuh sebuah cita-cita menjadi penerbang, teknisi pesawat, anggota TNI Angkatan Udara atau profesi lain yang berkaitan dengan dunia kedirgantaraan.
Interaksi tersebut juga memperlihatkan sisi humanis seorang prajurit TNI Angkatan Udara. Di balik tanggung jawab besar dalam menjaga keamanan wilayah udara serta menjalankan tugas sebagai Komandan Lanud RSA Natuna, perhatian terhadap generasi penerus tetap menjadi bagian dari pengabdian.
Kedekatan seperti ini penting, khususnya bagi anak-anak usia dini. Mereka tidak hanya mengenal sosok TNI AU sebagai prajurit yang menjaga kedaulatan negara, tetapi juga melihat figur yang ramah, peduli, dan mau mendengarkan suara mereka.
Suasana hangat di TK Angkasa Lanud RSA itu pun menjadi gambaran bahwa membangun kecintaan terhadap dunia kedirgantaraan dapat dimulai sejak usia dini bahkan dari sebuah percakapan ringan di ruang kelas.
Sebab, terkadang sebuah cita-cita besar memang berawal dari sesuatu yang sangat sederhana.
“Pak Komandan, tolong buatkan pesawat dari kertas ya.”
Dari sebuah gambar kecil, imajinasi bisa tumbuh. Dari imajinasi, cita-cita mulai terbentuk. Dan dari cita-cita anak-anak itulah, harapan tentang lahirnya generasi penerus yang mencintai dirgantara dan siap mengabdi kepada bangsa dan negara dapat terus dijaga. (KG/IK)
