LINGGA – TIM Kaci Club harus puas menempati posisi keempat pada Turnamen Bola Voli Merawang Cup III. Di balik capaian tersebut, terdapat cerita tentang konsistensi seorang anggota kepolisian yang memilih tetap meluangkan waktu untuk membina atlet di tengah padatnya tugas.
Adalah Ps Kanit Reskrim Polsek Daik, Bripka Yosman G.T. Simangunsong, S.H., sosok yang berada di balik pembentukan dan pembinaan Kaci Club.
Bagi Yosman, membangun sebuah tim tidak semata-mata berbicara tentang mengejar gelar juara. Ada proses pembinaan, pembentukan mental, kedisiplinan dan kebersamaan yang menjadi bagian penting dalam perjalanan sebuah klub.
Tantangannya bukan ringan.
Sebagai Kanit Reskrim, Joker sapaan akrabnya memiliki tanggung jawab dalam menangani berbagai persoalan hukum di wilayah Kecamatan Daik dan sekitarnya. Aktivitas tersebut menuntut waktu dan kesiapsiagaan, terutama ketika situasi membutuhkan kehadiran aparat di lapangan.
Di tengah kondisi tersebut, persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Kabupaten Lingga juga menambah kesibukan aparat dalam menjalankan tugas.
Namun, kesibukan itu tidak membuat Yosman meninggalkan pembinaan Kaci Club.
Di sela waktu yang tersedia, ia tetap menyempatkan diri mendampingi latihan, memberikan arahan dan menjaga semangat para pemain. Baginya, pembinaan atlet membutuhkan konsistensi, bukan hanya kehadiran ketika kompetisi berlangsung.
“Kami harus puas dengan hasil yang didapatkan, dan ini perlu perjuangan panjang, ada suka dan duka yang kami lalui sepanjang turnamen,” katanya, Minggu (04/10/2026).
Kaci Club kemudian tampil dalam Merawang Cup III dengan membawa semangat yang telah dibangun melalui proses latihan dan pembinaan.
Hasilnya, tim tersebut harus berhenti di posisi keempat.
Meski belum mencapai podium juara, perjalanan Kaci Club dalam turnamen tersebut menjadi pengalaman penting bagi para pemain. Setiap pertandingan menjadi bagian dari proses untuk meningkatkan kemampuan sekaligus membangun mental bertanding.
Kaci Club juga tidak dibangun untuk membawa kepentingan personal.
Di dalam perjalanan klub tersebut terdapat semangat Bhayangkara, yang tercermin melalui nilai kedisiplinan, sportivitas, kebersamaan dan semangat pantang menyerah.
Bagi Yosman, olahraga menjadi salah satu sarana untuk membangun karakter generasi muda.
“Saya juga mengapresiasi dan mengucapkan terimakasih kepada pemain yang telah memberikan performanya yang sangat baik, semoga dikemudian hari kita bisa tampil dengan maksimal lagi,” harapnya.
Lapangan bola voli tidak hanya menjadi tempat bertanding, tetapi juga ruang untuk belajar menerima kemenangan maupun kekalahan, menghargai lawan dan menjaga kekompakan tim.
Peran tersebut berjalan berdampingan dengan tugasnya sebagai anggota Polri.
Jika di satu sisi Yosman menjalankan tanggung jawab sebagai Kanit Reskrim, di sisi lain ia berupaya memberikan kontribusi melalui pembinaan olahraga.
Posisi keempat di Merawang Cup III akhirnya menjadi bagian dari perjalanan Kaci Club. Bukan akhir, melainkan bahan evaluasi untuk menatap kompetisi berikutnya.
Sebab, bagi sebuah klub yang sedang tumbuh, prestasi tidak lahir dalam satu malam. Ada latihan, kedisiplinan, ketekunan dan sosok yang bersedia berada di belakang para pemain untuk terus mendorong mereka berkembang.
Di balik Kaci Club, cerita itu sedang berlangsung.
Seorang polisi menjalankan tugasnya di tengah masyarakat, sembari membangun generasi muda melalui olahraga—dua peran yang bertemu dalam satu semangat: pengabdian. (kg/AS)
