DUMAI (marwahkepri.com) — Writerpreneur Muhammad Natsir Tahar membedah pencarian identitas historis Dumai melalui enam lensa filosofis fundamental, menawarkan kerangka berpikir yang jauh melampaui debat administratif semata. Hal ini terkait satu upaya yang diinisiasi Dewan Kesenian Daerah (DKD) Kota Dumai, untuk mencari akar sejarah yang dapat dijadikan rujukan untuk menentukan Hari Jadi Kota Dumai.
Natsir tampil bersama filsuf dan Guru Besar FISIP Universitas Riau (Unri), Prof. Dr. Yusmar Yusuf, M. Phil., dan Agoes S. Alam selaku Ketua Umum DKD Kota Dumai sempena Refleksi Akhir Tahun bersama Dewan Kesenian Kota Dumai, yang berlangsung Senin (29/12/2025) lalu.
Enam Pilar Filosofis Pemaknaan Kota
Dalam paparannya, Natsir Tahar menjelaskan bahwa untuk memahami “kapan” Dumai lahir, kita harus terlebih dahulu menjawab “apa” dan “bagaimana” hakikatnya. Berikut adalah enam pilar yang diuraikannya:
Pertama, Ontologi (Hakikat Keberadaan): Dumai bukan sekadar kumpulan infrastruktur minyak. Hakikat terdalamnya terletak pada “Doemei” yakni suatu entitas politik-budaya yang telah diakui dalam struktur Kesultanan Siak jauh sebelum 1999. “Kelahiran administratif hanya satu fase dalam proses ‘menjadi’ yang panjang,” ujarnya.
Kedua, Epistemologi (Cara Mengetahui): Pengetahuan tentang Dumai dibangun melalui arkeologi teks. Ini berarti mengkritisi sumber primer seperti dokumen kolonial (Catatan J.S.G. Gramberg tahun 1864, Korpus 1882-1884,Besluit 1928), peta Leiden (1882), dan catatan perjalanan. “Kebenaran sejarah diraih dengan triangulasi bukti, bukan dengan mengikuti satu narasi tunggal,” tegas Natsir Tahar.
Ketiga, Aksiologi (Nilai dan Manfaat): Nilai Dumai bersifat multidimensional. Selain nilai ekonomi minyak, terdapat nilai historis sebagai kota pesisir Melayu-Siak dan nilai simbolis sebagai ruang kebanggaan kolektif. “Menemukan milestone adalah upaya memulihkan nilai identitas yang terpinggirkan oleh narasi modernitas,” paparnya.
Keempat, Etimologi (Asal-usul Nama): Penelusuran nama “Doemai” (dalam ejaan Van Ophuijsen) membuka memori linguistik. Penyebutan “Penghulu Dumai” dalam Bab al-Qawa’id (1901) menunjukkan bahwa nama ini telah melekat pada institusi adat, menandakan keberlanjutan sosial-politik yang otentik. Hal ini juga tidak lepas dari lagenda asal usul nama Dumai pada Legenda Putri Tujuh.
Kelima, Kosmologi (Kota dalam Semesta): Posisi strategis Dumai di Selat Malaka menempatkannya dalam jaringan kosmopolit yang luas. Perkembangannya dari kampung pesisir menjadi kota industri merefleksikan pergeseran tatanan: dari kehidupan yang selaras dengan alam menuju logika ekstraktif global.
Keenam, Mitologi (Fungsi Narasi Simbolis): Terkait Legenda Putri Tujuh, Natsir Tahar menegaskan bahwa meski tidak bisa diverifikasi sebagai fakta sejarah, mitos berfungsi sebagai “pintu gerbang imajinasi kolektif”. “Sebelum teks kolonial mencatat, mitos telah lebih dulu membangun ingatan, nilai, dan ikatan batin masyarakat dengan ruang yang disebut Dumai ini,” jelasnya. Mitologi bukan pengganti sejarah, melainkan fondasi kultural yang memberi makna dan roh pada sebuah tempat.
Baca juga: Refleksi Akhir Tahun bersama DKD: Musik, Puisi, Milestone Dumai, Kontemplasi, dan Pidato Kebudayaan
Sebuah Pertemuan yang Merangkum Semangat
Acara ini berhasil memadukan seni dan intelektualitas. Sebelum paparan filosofis, suasana telah dihidupkan oleh Monolog “Malayculla” yang dibawakan Tyas Ag. serta Pembacaan Puisi oleh Edi Ahmad, Rm. Assay Malay, Candra Lingga, Acha Suhada, Muzni, dan Nurul.
Setelah pemaparan enam pilar oleh Natsir Tahar, acara dilanjutkan dengan Kontemplasi yang dipimpin oleh Prof. Dr. Yusmar Yusuf, M.Phil., dengan tema “Di Pertigaan Sejarah: Destiny, Keriangan Kreatif dan Masyarakat Epistemi”. Sesi ini mengajak hadirin merenung secara mendalam tentang posisi Dumai di persimpangan waktu dan pengetahuan.
Acara puncak ditutup dengan Pidato Kebudayaan oleh Agoes S. Alam, Ketua DKD, yang berjudul “Palagan Marwah Pemajuan Budaya Melayu”. Pidato ini mengingatkan pentingnya perjuangan budaya dalam merawat marwah dan identitas Melayu di tengah arus perubahan.
Acara Refleksi Akhir Tahun ini menegaskan bahwa perbincangan tentang Dumai telah memasuki babak yang lebih substantif. Pencarian milestone tidak lagi terjebak pada dikotomi “1864 vs 1884 vs 1999”, melainkan naik pada level filosofis untuk membangun kesadaran kolektif yang utuh. Enam pilar yang diurai Natsir Tahar menjadi kompas berharga bagi siapapun yang peduli untuk tidak hanya mengetahui hari lahir Dumai, tetapi lebih jauh lagi, memahami jiwanya yang paling dalam. MK-mun
Redaktur: Munwir Sani












