Akibat Pahitnya Kehidupan Seorang Bocah SD Pilih Mengakhiri Hidup “Karena Tak  Mampu Beli Buku dan Pena”

Kepri Global – Tragedi memilukan di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, telah menjadi lonceng kematian bagi nurani kemanusiaan kita.
Kepergian YBR, seorang bocah kelas IV SD yang masih berusia 10 tahun memilih mengakhiri hidupnya sendiri karena tidak mampu membeli buku dan pena belajar, Peristiwa ini tentu menjadi tamparan keras bagi kita semua dan menyadarkan kita bahwa kemiskinan masih menjadi pembunuh nyata.
“Ia tidak pernah menyerah pada beratnya pelajaran, Namun ia tak sanggup menghadapi pahitnya kehidupan, Sehingga buku dan pena padamkan mimpi dan harapannya”
Duka ini bermula ketika malam sebelum kejadian, YBR meminta uang kepada ibunya untuk membeli buku dan pena untuk keperluan sekolah esok hari.
Namun, sebagai ibu tunggal yang berjuang menghidupi lima anak sendirian selama sepuluh tahun, permintaan sederhana itu menjadi beban yang tak sanggup ia pikul.
Rasa kecewa dan malu yang mendalam membawa bocah kecil yang tinggal di pondok neneknya memilih keputusan yang memilukan.
Tragedi ini menjadi bukti nyata bahwa akses pendidikan kita belum sepenuhnya menyentuh mereka yang berada di garis kemiskinan ekstrem, Kejadian ini merupakan bukti nyata kegagalan kolektif dalam menjaga mimpi anak bangsa. Di tengah megahnya anggaran pendidikan di luncurkan negara, tetapi masih ada seorang anak kehilangan mimpi mimpinya karena sebatang pena dan sebuah buku.
Meskipun pemerintah memiliki program bantuan seperti PIP dan Dana BOS, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa bantuan tersebut seringkali terhambat oleh birokrasi yang kaku dan data yang tidak akurat.
Negara seolah hanya hadir di atas kertas regulasi, namun menjadi fatamorgana bagi mereka yang berada di pelosok negeri. Ke depan, kita tidak boleh lagi membiarkan birokrasi membutakan mata hati.
Sekolah dan perangkat desa harus menjadi mata serta telinga negara yang mampu mendeteksi kesulitan siswa sebelum berubah menjadi keputusasaan.
Kita membutuhkan sistem pengawasan yang lebih peka dan nyata di akar rumput agar bantuan benar-benar sampai ke tangan yang membutuhkan.
Jangan sampai sebatang pena dan buku  kembali menjadi senjata yang membunuh masa depan, karena setiap anak di pelosok timur berhak menuliskan hari esok dengan tinta harapan, bukan dengan air mata atau nyawa.
RPA Indonesia berkomitmen penuh untuk mengawal advokasi ini demi memastikan negara hadir sebagai pelindung nyata, bukan sekedar fatamorgana di balik lembaran kertas regulasi.