LINGGA ā Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang melanda sejumlah wilayah Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau, menjadi ujian serius bagi pemerintah daerah di tengah kondisi kekeringan, cuaca panas dan sulitnya akses menuju sejumlah titik api.
Menghadapi kondisi tersebut, Bupati Lingga Muhammad Nizar dan Wakil Bupati Novrizal memperkuat respons pemerintah daerah melalui penanganan langsung di lapangan, koordinasi lintas instansi hingga peningkatan status kebencanaan dari Siaga Darurat menjadi Tanggap Darurat Karhutla.
Bupati Nizar sebelumnya turun langsung meninjau lokasi kebakaran untuk memastikan proses penanganan berjalan maksimal. Dalam peninjauan tersebut, Nizar didampingi Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lingga, Oktanius Wirsal.
Sementara itu, Wakil Bupati Novrizal memimpin rapat koordinasi penanganan kekeringan dan Karhutla bersama jajaran pemerintah daerah. Ia menekankan bahwa penanganan kebakaran tidak dapat hanya dibebankan kepada satu instansi, melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh organisasi perangkat daerah (OPD), kecamatan, pemerintah desa dan unsur terkait lainnya.
Kepala BPBD Kabupaten Lingga Oktanius Wirsal mengatakan, kondisi lapangan menjadi salah satu tantangan terbesar dalam proses pemadaman.
Kekeringan yang berlangsung cukup panjang membuat sumber air semakin sulit ditemukan. Sejumlah titik api juga berada jauh dari akses jalan sehingga personel harus menempuh jarak tertentu dengan membawa peralatan menuju lokasi.
āPenanganan karhutla masih berjalan. Ada beberapa kendala, terutama kondisi kemarau karena sumber air sulit, sementara jangkauan lokasi cukup jauh dari tepi jalan,ā kata Oktanius.
Kondisi tersebut terlihat dalam penanganan Karhutla di sejumlah wilayah, termasuk Desa Kudung, Kecamatan Lingga Timur. Tim gabungan bahkan harus menyusuri jalan setapak untuk mencapai titik api. Dalam penanganan di wilayah tersebut, personel TNI-Polri, BPBD, masyarakat dan karyawan PT Citra Sugi Aditya (CSA) turut terlibat.
Di Desa Sungai Besar, Kecamatan Lingga Utara, situasi serupa juga terjadi. Tim gabungan harus melakukan pemadaman dan pendinginan secara bertahap karena kondisi medan yang sulit serta keterbatasan akses menuju lokasi kebakaran. Pada 15 September 2026, penanganan bahkan telah memasuki hari kelima.
Menghadapi perkembangan tersebut, Pemerintah Kabupaten Lingga meningkatkan status dari Siaga Darurat menjadi Tanggap Darurat Karhutla mulai 11 September 2026.
Peningkatan status tersebut menjadi dasar untuk memperkuat mobilisasi personel, peralatan, logistik dan dukungan lintas sektor dalam menghadapi kondisi yang semakin kompleks.
Pemkab Lingga juga telah mengajukan bantuan water bombing dan/atau Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) kepada BNPB pada 13 September 2026. Pemerintah daerah masih menunggu tindak lanjut dari pemerintah pusat.
Di lapangan, penanganan melibatkan unsur TNI, Polri, BPBD, Damkar, Satpol PP, PDAM, pemerintah kecamatan dan desa serta masyarakat.
Di tengah keterbatasan sarana pemadaman, Bupati Lingga Muhammad Nizar juga memberikan perhatian terhadap kesiapan armada pemadam kebakaran.
Nizar telah meminta Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) memprioritaskan anggaran untuk biaya perbaikan kendaraan Damkar yang dibutuhkan dalam mendukung operasi penanganan Karhutla.
Langkah tersebut dinilai penting mengingat kondisi medan di sejumlah lokasi membutuhkan dukungan kendaraan dan peralatan pemadam yang siap digunakan.
Namun, proses perbaikan armada tersebut tidak berlangsung seketika. Keterlambatan proses berada pada tahapan teknis di OPD yang menangani Satpol PP dan Damkar.
Karena itu, di tengah kondisi darurat, OPD Teknis didorong untuk memastikan proses administrasi dan teknis perbaikan dapat segera dituntaskan sehingga armada yang tersedia dapat dimaksimalkan untuk mendukung petugas di lapangan.
Kesiapan armada menjadi semakin penting karena karakter kebakaran di Lingga tidak hanya berada di lokasi yang mudah dijangkau kendaraan. Sebagian titik api berada jauh dari jalan dan membutuhkan dukungan peralatan tambahan untuk menjangkau sumber kebakaran.
Selain mengandalkan kekuatan pemerintah daerah, Bupati Nizar sejak awal juga melakukan koordinasi dengan PT Citra Sugi Aditya (CSA), khususnya untuk membantu penanganan Karhutla di wilayah yang berdekatan dengan area HGU perusahaan.
Koordinasi tersebut kemudian diwujudkan melalui dukungan PT CSA terhadap operasi di lapangan.
Perusahaan membantu dengan menyediakan sejumlah peralatan, mengerahkan pekerja untuk membantu proses pemadaman serta memberikan dukungan alat berat ketika dibutuhkan dalam penanganan Karhutla.
Keterlibatan tersebut menjadi bagian dari kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha dan masyarakat dalam menghadapi kondisi kebakaran yang sulit ditangani hanya dengan mengandalkan satu unsur.
Dalam penanganan Karhutla di Desa Kudung, misalnya, karyawan PT CSA tercatat turut bergabung bersama personel Polri, TNI, BPBD dan masyarakat untuk memadamkan titik api.
Dukungan tersebut menjadi semakin penting karena sejumlah wilayah yang terbakar berada di sekitar kawasan yang membutuhkan mobilisasi peralatan dan personel dalam jumlah lebih besar.
Di Desa Sungai Besar, tim gabungan menghadapi medan lahan gambut dan rawa kering, cuaca panas, angin kencang serta keterbatasan sumber air dan peralatan.
Pada penanganan 13 September, tim gabungan melakukan pemadaman secara manual karena sejumlah titik sulit dijangkau kendaraan. Api juga sempat kembali muncul akibat bara yang masih tersisa sehingga petugas harus melakukan pendinginan secara berulang.
Situasi serupa terjadi di sejumlah wilayah lain. Di Desa Resun Pesisir, misalnya, pemadaman telah berlangsung sejak 5 September dan pada 13 September memasuki hari kesembilan dengan luas lahan terbakar sekitar 22 hektare. Sementara di Desa Duara, akses menuju lokasi juga menjadi kendala dalam proses pemadaman.
Selain kekuatan yang sudah ada, operasi penanganan juga diperkuat dengan tambahan personel Brimob Polda Kepri.
Perlindungan terhadap petugas turut menjadi perhatian. Tim Dokkes Polres Lingga bersama Dinas Kesehatan melakukan pemeriksaan kesehatan berkala terhadap personel di lapangan. Petugas juga mendapatkan dukungan vitamin dan masker medis untuk menjaga kondisi selama bertugas di tengah paparan asap dan cuaca panas.
Operasi penanganan Karhutla kini terus berlanjut. Pemerintah daerah bersama TNI-Polri, BPBD, Damkar, pemerintah kecamatan dan desa, perusahaan serta masyarakat masih melakukan pemantauan, pemadaman, penyekatan dan pendinginan di titik-titik yang masih menyisakan bara.
Bagi BPBD, tantangan berikutnya bukan hanya memastikan kobaran api berhasil dipadamkan, tetapi juga mencegah bara kembali menjadi titik api baru di tengah kondisi lahan yang masih kering.
Dengan status Tanggap Darurat yang telah ditetapkan, efektivitas koordinasi, kesiapan armada, dukungan personel dan keterlibatan seluruh unsur menjadi faktor penting untuk mempercepat pengendalian Karhutla di Kabupaten Lingga. (Kg/as)
