NATUNA – Kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, membuat pemerintah daerah mengambil langkah cepat. Seluruh sekolah mengalihkan pembelajaran tatap muka menjadi Belajar dari Rumah (BDR) demi melindungi kesehatan siswa.
Kebijakan tersebut diambil, Bupati Natuna, Cen Sui Lan setelah kualitas udara terdampak sebaran kabut asap yang dinilai berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat, terutama anak-anak.
Melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Pemkab Natuna menerbitkan surat edaran yang mengatur perubahan pola pembelajaran bagi satuan pendidikan PAUD, SD dan SMP, baik negeri maupun swasta.
BDR diberlakukan mulai 7 hingga 9 September 2026. Kebijakan dapat diperpanjang atau dihentikan dengan mempertimbangkan perkembangan kualitas udara dan tingkat keamanan bagi warga sekolah.
Pembelajaran tetap berjalan melalui metode daring maupun luring, sehingga siswa tetap mendapatkan layanan pendidikan meski tidak datang ke sekolah. Pemerintah daerah menempatkan keselamatan peserta didik sebagai prioritas karena anak-anak termasuk kelompok yang rentan terhadap dampak pencemaran udara.
Selain siswa, pendidik dan tenaga kependidikan juga menjadi bagian yang dilindungi melalui kebijakan tersebut. Bupati Cen Sui Lan meminta langkah pencegahan dilakukan secara maksimal. Di sisi lain, pemerintah memastikan kondisi darurat kabut asap tidak menghentikan hak peserta didik untuk memperoleh pendidikan.
Orang Tua Diminta Batasi Aktivitas Anak selama BDR berlangsung, orang tua atau wali diminta mendampingi kegiatan belajar anak dari rumah. Aktivitas anak di luar rumah dan ruang terbuka juga diimbau untuk dibatasi guna mengurangi paparan kabut asap.
Masyarakat diminta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, mencukupi kebutuhan air putih, serta menggunakan masker apabila harus beraktivitas di luar ruangan.
Pemkab Natuna akan terus memantau perkembangan kualitas udara. Kebijakan sekolah selanjutnya akan disesuaikan dengan kondisi Indeks Kualitas Udara (IKU) di masing-masing wilayah. Di tengah kepungan kabut asap, pemerintah memilih memastikan anak-anak tetap belajar tanpa harus mempertaruhkan kesehatan mereka. (KG/IK)
