Listrik Padam, Air Seret: Emak-Emak Lingga Naik Pitam, Pelayanan Dasar Dipertanyakan

LINGGA – Kesabaran warga Kabupaten Lingga tampaknya mulai habis. Berulangnya pemadaman listrik yang terjadi hampir setiap waktu membuat masyarakat, terutama kalangan ibu rumah tangga, meluapkan kekesalan terhadap pelayanan Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang dinilai tak kunjung beres.

Keluhan ini bukan muncul tiba-tiba. Warga menyebut masalah listrik sudah terjadi sejak Ramadan, namun hingga kini belum terlihat solusi nyata. Yang membuat masyarakat semakin geram, pemadaman terjadi mulai dari ke satu hingga keesokan hari dengan jadwal yang berlarut.

Salah seorang warga dengan nada kesal bahkan menyebut kondisi ini sudah seperti rutinitas yang memuakkan.

“Habis barang-barang dibuat listrik ni, belum lagi kena jadwal, tiba-tiba mati lagi. Memang terok lah. Dari kemarin tak selesai-selesai. Macam dah rutin mati lampu ni,” keluhnya, Sabtu (28/03/2026).

Bagi masyarakat, listrik bukan lagi sekadar kebutuhan tambahan, melainkan urat nadi aktivitas rumah tangga dan usaha kecil. Ketika listrik mati mendadak, banyak peralatan rusak, pekerjaan terhenti, hingga usaha warga ikut terdampak.

Namun persoalan di Lingga tidak berhenti pada listrik. Di saat warga sudah dipusingkan dengan lampu yang sering padam, masalah lain ikut menambah beban: krisis air bersih.

Warga mengaku aliran air dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) semakin tidak menentu, terutama saat musim panas. Bahkan, ada wilayah yang harus menunggu hujan turun agar air bisa kembali mengalir.

Seorang karyawan PDAM mengakui kondisi tersebut. Menurutnya, minimnya debit air menjadi kendala utama distribusi.

“Harus tunggu hujan baru air bisa jalan. Sekarang debit air kecil,” ujar salah seorang karyawan yang diutarakan oleh warga.

Namun pernyataan itu justru memancing kritik keras dari masyarakat. Banyak warga mempertanyakan keseriusan pengelolaan air di daerah yang dikenal memiliki potensi sumber air cukup banyak.

Bagi warga, alasan klasik soal debit air kecil tidak lagi bisa diterima jika masalah ini terus berulang setiap tahun tanpa solusi jangka panjang.

Kini masyarakat mulai mempertanyakan keseriusan pihak terkait dalam menangani dua persoalan mendasar tersebut. Listrik yang tak stabil dan air bersih yang seret dianggap sebagai bukti bahwa pelayanan dasar bagi masyarakat belum sepenuhnya menjadi prioritas.

“Kalau begini terus, sampai kapan masyarakat harus sabar?” ujar seorang warga dengan nada kecewa.

Situasi ini menjadi peringatan keras bagi pihak PLN, PDAM, maupun pemerintah daerah. Jika tidak segera ditangani secara serius, keluhan yang selama ini hanya terdengar di warung-warung kopi bisa berubah menjadi tekanan publik yang lebih besar. (kg/as)