Meski Anggaran Terbatas, Warga Kampung Kenanga Tetap Lestarikan Tradisi Pintu Gerbang dan Lampu Colok

LINGGA – Suasana malam di Kabupaten Lingga pada penghujung bulan suci Ramadan tampak berbeda dari biasanya. Cahaya lampu colok dan gerbang hias berjejer menerangi sudut-sudut kampung, menghadirkan pemandangan khas yang hanya dapat ditemui saat tradisi Malam 7 Likur.

Tradisi yang telah mengakar kuat dalam budaya masyarakat Melayu ini selalu dinantikan setiap tahunnya. Bagi masyarakat Lingga, malam 7 likur yang jatuh pada malam ke-27 Ramadan diyakini sebagai salah satu malam istimewa yang berkaitan dengan momentum Lailatul Qadar. Karena itu, masyarakat menyambutnya dengan penuh suka cita melalui berbagai kegiatan, salah satunya menghias kampung dengan gerbang dan lampu colok.

Semarak tradisi tersebut juga terlihat di RT Kampung Kenanga, Jalan Sawah Indah, di mana warga setempat tampak antusias bergotong royong mempersiapkan gerbang hias serta menata lampu colok yang dipasang di sepanjang lingkungan kampung.

Sejak sore hari, warga dari berbagai kalangan berkumpul untuk bersama-sama menyelesaikan pekerjaan tersebut. Para pemuda terlihat sibuk menyusun rangka gerbang, sementara sebagian warga lainnya menyiapkan lampu colok yang akan dinyalakan saat malam tiba. Di tengah kesibukan itu, canda dan tawa warga menjadi bukti kuatnya kebersamaan yang terjalin di kampung tersebut.

Ketua RT Kampung Kenanga, Suhardi, mengatakan tradisi menghias gerbang dan menyalakan lampu colok saat malam 7 likur merupakan warisan budaya yang telah lama berkembang di tengah masyarakat.

Menurutnya, kegiatan ini bukan sekadar memperindah kampung, tetapi juga menjadi momentum untuk mempererat tali silaturahmi antarwarga.

“Alhamdulillah tradisi ini masih terus terjaga sampai sekarang. Warga sangat kompak, mulai dari anak-anak muda hingga orang tua ikut terlibat dalam gotong royong menyiapkan gerbang hias dan lampu colok,” kata Suhardi, Sabtu (14/03/2026).

Ia menambahkan, semangat kebersamaan menjadi kunci utama terlaksananya kegiatan tersebut. Meski dengan keterbatasan anggaran, masyarakat tetap berupaya menjaga tradisi agar tidak hilang ditelan zaman.

Bahkan, sebagian warga secara sukarela menyumbangkan tenaga maupun sedikit rezeki mereka untuk mendukung pembuatan gerbang hias tersebut.

“Kami sangat berterima kasih kepada masyarakat yang telah menyumbangkan sedikit rezekinya. Tanpa dukungan dan partisipasi warga, tentu gerbang hias ini tidak akan terwujud. Walaupun dengan keterbatasan anggaran, semangat kebersamaan masyarakat membuat semuanya bisa terlaksana,” ujarnya.

Bagi warga Kampung Kenanga, tradisi malam 7 likur bukan hanya tentang lampu colok atau gerbang hias semata. Lebih dari itu, tradisi ini menjadi simbol kekompakan, kebersamaan, serta bentuk rasa syukur masyarakat dalam menyambut malam-malam terakhir Ramadan.

Ketika malam tiba dan lampu colok mulai dinyalakan, cahaya yang berpendar di sepanjang jalan kampung seakan menjadi penanda bahwa semangat kebersamaan dan nilai-nilai tradisi masih terus hidup di tengah masyarakat Kabupaten Lingga. (kg/as)