LINGGA – Aroma penipuan mulai menyusup di tengah arus mudik Idulfitri. Sebanyak 14 santri dan santriwati terancam gagal berangkat ke kampung halaman setelah menjadi korban dugaan penipuan pembelian tiket kapal ferry rute Batam–Singkep, Minggu (1/3/2026).
Alih-alih bersua keluarga, para pelajar itu justru terlantar di pelabuhan. Tiket yang telah dibayar melalui agen di Facebook tak pernah diterima. Uang jutaan rupiah melayang, sementara keberangkatan tinggal hitungan jam.
Modusnya sederhana namun mematikan: akun media sosial menawarkan jasa pembelian tiket saat permintaan melonjak menjelang lebaran. Korban diminta mentransfer uang, lalu pelaku menghilang. Saat hendak naik kapal, nama mereka tak terdaftar.
“Kami sudah transfer, tapi tiketnya tidak ada. Agen tidak bisa dihubungi,” ujar salah satu korban dengan nada kecewa.
Peristiwa ini memunculkan pertanyaan serius soal pengawasan praktik percaloan, terutama yang beroperasi secara daring. Arus mudik yang kian padat diduga menjadi ladang empuk bagi oknum tak bertanggung jawab.
Di tengah situasi genting itu, anggota DPRD Lingga, Yanuar, S.T., turun langsung membantu. Bersama manajemen kapal Ocean Dragon 5, ia memfasilitasi agar para santri tetap dapat diberangkatkan.
Namun persoalan tak berhenti pada solusi sementara. Yanuar mendesak aparat penegak hukum mengusut tuntas jaringan calo online yang dinilai semakin berani bermain di musim mudik.
“Ini bukan sekadar kerugian materi. Ini menyangkut rasa aman masyarakat. Jangan sampai momentum mudik dijadikan ladang penipuan,” tegasnya.
Kasus ini menjadi alarm keras bagi otoritas pelabuhan dan aparat keamanan. Tanpa pengawasan ketat dan penindakan tegas, praktik serupa berpotensi kembali memakan korban, terlebih menjelang puncak arus mudik Idulfitri.
Masyarakat pun diimbau untuk tidak tergiur kemudahan pemesanan melalui akun tak resmi. Tiket perjalanan sebaiknya dibeli langsung di loket resmi atau melalui kanal operator yang terverifikasi.
Di tengah gegap gempita mudik, 14 santri itu menjadi pengingat bahwa kejahatan selalu mencari celah. Pertanyaannya, akankah penindakan benar-benar dilakukan sebelum korban berikutnya berjatuhan? (kg/as)












You must be logged in to post a comment.