Waspada Tekanan Energi Dan Pangan 2026: Resiko Global Meningkat Dampak Nyata Mulai Terasa Di Indonesia 

Jakarta, – Memasuki April 2026, tekanan global di sektor energi dan pangan semakin besar. Harga minyak dunia yang berada di kisaran USD 100 per barel akibat konflik di Timur Tengah mulai berdampak langsung pada Indonesia.

Tekanan ini terlihat dari melemahnya rupiah yang sempat mendekati Rp16.900 per dolar AS, serta meningkatnya beban subsidi energi. Akibatnya, ruang gerak pemerintah semakin sempit dalam menjaga stabilitas harga dan melindungi daya beli masyarakat.

Dampaknya kini terasa nyata. Ketika harga energi naik, biaya transportasi dan distribusi ikut meningkat. Harga pangan pun terdorong naik, seperti beras dan minyak goreng di sejumlah daerah. Pada akhirnya, masyarakat kecil yang paling merasakan, dapur rumah tangga semakin tertekan.

Masalah ini tidak hanya berasal dari luar. Ketergantungan Indonesia pada impor energi dan pangan membuat kita rentan. Saat harga dunia naik, kekuatan dalam negeri belum cukup untuk menahan dampaknya.

Pemerintah saat ini terlalu bergantung pada subsidi untuk menahan harga. Namun, langkah ini bersifat sementara dan menguras anggaran negara. Tanpa perbaikan yang lebih mendasar, kebijakan ini berisiko menjadi beban baru.

Di tengah situasi ini, praktik korupsi dan keserakahan yang masih terjadi turut memperburuk keadaan, karena menggerus anggaran negara dan menghambat upaya melindungi kesejahteraan rakyat.

Di sinilah masalah utamanya: tekanan sudah dirasakan rakyat, tetapi arah kebijakan belum tegas dan belum menyentuh akar persoalan.

Karena itu, ketahanan energi dan pangan harus menjadi prioritas nyata, bukan sekadar rencana. Produksi dalam negeri perlu ditingkatkan, termasuk memperkuat petani lokal dan mengembangkan sumber energi dalam negeri, agar ketergantungan impor bisa dikurangi.

Pemerintah juga perlu terbuka kepada masyarakat agar semua pihak memahami kondisi yang sebenarnya dan dapat bersiap dengan baik.

Di sisi masyarakat, diperlukan sikap bijak: tidak panik, tidak menimbun, serta mulai mengatur pengeluaran dan memperkuat ketahanan keluarga.

Jika tidak diantisipasi dengan serius, tekanan ini akan semakin terasa dalam kehidupan sehari-hari, langsung menyentuh kebutuhan dasar dan keberlangsungan hidup masyarakat.

Sumber; Jeannie Latumahina
Ketua Umum Relawan Perempuan dan Anak (RPA) Indonesia