07/10/2026
Screenshot_20261007_132747

LINGGA – Kemenangan BS Squad Volleyball Club (VC) di Merawang Cup III seharusnya menjadi puncak kebahagiaan setelah melewati ketatnya persaingan di lapangan. Namun, pesta kemenangan itu justru menyisakan tanda tanya besar.

Bukan soal hasil pertandingan. Bukan pula soal trofi yang berhasil dibawa pulang.

Yang dipersoalkan adalah identitas turnamen yang disebut berubah ketika memasuki acara penutupan.

Sejak awal, kompetisi tersebut dikenal sebagai Turnamen Bola Voli Merawang Cup III. Namun, saat penutupan dan Wakil Gubernur Kepulauan Riau hadir, penyebutan turnamen kemudian dikaitkan dengan Piala Gubernur dan Wakil Gubernur Kepri.

Perubahan inilah yang membuat kubu BS Squad mempertanyakan penyelenggaraan turnamen tersebut.

Pelatih BS Squad, Jagad alias Ruslan, mengaku kecewa. Menurutnya, turnamen yang sejak awal berjalan baik justru meninggalkan pertanyaan setelah memasuki seremoni penutupan.

“Jangan karena gubernur ataupun wakil gubernur ada, seolah-olah berubah status turnamen. Ini banyak menimbulkan asumsi di publik,” ujar Ruslan.

Bagi Ruslan, persoalannya bukan pada kehadiran pejabat daerah ataupun bantuan yang diberikan kepada kegiatan olahraga. Ia mengakui bahwa dukungan pemerintah maupun pejabat terhadap olahraga merupakan hal positif.

Namun, menurutnya, dukungan tersebut tidak semestinya kemudian membuat identitas sebuah turnamen berubah atau menimbulkan kesan bahwa kompetisi sejak awal merupakan agenda yang melekat dengan nama pejabat tertentu.

Jangan Sampai Olahraga Terseret Politik

Ruslan bahkan menyinggung dukungan yang selama ini diberikan oleh berbagai unsur pemerintahan terhadap kegiatan olahraga di Kabupaten Lingga.

Ia menyebut Bupati Lingga maupun Ketua DPRD Lingga juga turut memberikan dukungan terhadap kegiatan olahraga yang digelar masyarakat.

“Bupati dan Ketua DPRD juga tiap tahun turut menyumbang. Jangan dijadikan panggung politik,” tegasnya.

Pernyataan tersebut menjadi sorotan karena disampaikan setelah BS Squad berhasil keluar sebagai juara. Menurut Ruslan, olahraga seharusnya menjadi ruang yang netral, tempat atlet bertanding dengan kemampuan, klub berkompetisi secara sportif dan masyarakat menikmati pertandingan tanpa dibebani kepentingan politik.

Ia menilai, jika sebuah turnamen sejak awal menggunakan nama tertentu, maka identitas tersebut semestinya konsisten hingga pertandingan berakhir.

Sebab, perubahan penyebutan pada saat penutupan berpotensi melahirkan berbagai tafsir di tengah masyarakat.

“Dari awal turnamen sudah berjalan dengan baik. Tetapi setelah penutupan justru mengundang tanda tanya,” katanya.

Juara Malah Siap Kembalikan Piala

Polemik tersebut bahkan membuat sikap BS Squad semakin tegas.

Ruslan menyatakan pihaknya tidak keberatan apabila piala yang telah diraih harus dikembalikan kepada panitia, jika memang terdapat persoalan mengenai status maupun penyebutan trofi tersebut.

“Kami siap memulangkan piala yang sudah kami raih kepada panitia,” ujarnya.

Pernyataan itu menunjukkan bahwa bagi BS Squad, persoalan bukan semata-mata mengenai membawa pulang trofi kemenangan. Mereka menginginkan kejelasan mengenai bagaimana sebenarnya status dan identitas turnamen tersebut sejak awal hingga penutupan.

BS Squad pun berharap persoalan tersebut tidak dibiarkan menjadi bola liar di tengah masyarakat.

Sebab, kemenangan di lapangan semestinya berbicara tentang sportivitas, perjuangan atlet dan prestasi klub, bukan tentang siapa yang paling kuat menempelkan nama di sebuah trofi.

Kini, bola panas justru berada di luar lapangan: apakah Merawang Cup III tetap Merawang Cup III, atau memang sejak awal dirancang sebagai Piala Gubernur dan Wakil Gubernur Kepri?

Jawaban dari panitia menjadi penting agar tidak muncul persepsi berbeda di tengah peserta, klub dan masyarakat yang mengikuti turnamen tersebut sejak awal. (kg/AS)