Bupati Natuna, Cen Sui Lan menyerahkan Hadiah Harapan I kepada Perpustakaan beringin jaya Desa Air Lengit. (Foto: IK)
NATUNA – Bupati Natuna, Cen Sui Lan membuka Festival Literasi ke-III tingkat Kabupaten Natuna tahun 2026 yang digelar dalam rangka memperingati Hari Kunjung Perpustakaan. Kegiatan ini menjadi momentum memperkuat budaya membaca sekaligus mendorong pemerataan akses pengetahuan bagi masyarakat di wilayah kepulauan.
Pembukaan festival berlangsung di halaman Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, Senin (26/10/2026). Kegiatan tersebut dihadiri Sekretaris Utama (Sestama) Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Dr. Drs. Joko Santoso, M.Hum., jajaran organisasi perangkat daerah (OPD), pimpinan instansi vertikal, kepala desa, kepala sekolah, pegiat literasi, serta para pelajar.
Festival Literasi ke-III tahun ini mengusung tema “Literasi Kuat, Generasi Hebat, Natuna Bermartabat”. Berbagai kegiatan disiapkan untuk meningkatkan minat baca, memperluas wawasan, serta menjadikan perpustakaan sebagai ruang belajar yang terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Natuna, Erson Gempa dalam sambutan mengatakan festival tersebut merupakan puncak dari rangkaian kegiatan literasi yang telah dilaksanakan sejak beberapa bulan sebelumnya.
Sebelum pembukaan festival, pihaknya telah menggelar sejumlah perlombaan, di antaranya lomba bertutur tingkat sekolah dasar pada 4–5 Mei 2026 serta lomba perpustakaan desa dan kelurahan terbaik tingkat Kabupaten Natuna yang berlangsung pada April hingga Mei 2026.
Salah satu capaian yang membanggakan, Perpustakaan Ronanis Cala di Desa Air Lengit berhasil meraih predikat perpustakaan desa terbaik di tingkat Kabupaten Natuna dan Provinsi Kepulauan Riau. Perpustakaan tersebut diharapkan dapat mewakili Kepri pada kompetisi tingkat nasional.
“Alhamdulillah, Perpustakaan Ronanis Cala dari Desa Air Lengit berhasil menjadi yang terbaik di tingkat kabupaten maupun provinsi. Mudah-mudahan tahun ini dapat mewakili Provinsi Kepulauan Riau di tingkat nasional,” kata Erson.

Ia menjelaskan, Festival Literasi ke-III diisi dengan pentas seni pelajar, seminar bagi pelajar dan pegiat literasi, serta pameran literasi yang melibatkan berbagai komunitas dan lembaga. Pameran tersebut diikuti Forum Taman Bacaan Masyarakat, perpustakaan desa dari Air Lengit, Sepempang dan Selemam, Bank Riau Kepri Syariah, Bank BRI Cabang Natuna, Pegadaian Cabang Natuna, Dekranasda Kabupaten Natuna, Dharma Wanita Persatuan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, serta Forum Anak Natuna.
Menurut Erson, kegiatan yang berlangsung selama tiga hari tersebut menargetkan kunjungan sebanyak 600 orang. Seluruh pembiayaan festival bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) nonfisik bantuan Perpustakaan Nasional RI tahun anggaran 2026.
Perpusnas Soroti Tantangan Literasi di Wilayah Kepulauan
Sementara itu, Sestama Perpustakaan Nasional RI, Joko Santoso, mengapresiasi penyelenggaraan Festival Literasi Natuna. Menurutnya, kegiatan semacam ini memiliki peran penting dalam memperkuat budaya membaca sekaligus membangun ekosistem literasi yang melibatkan pemerintah, masyarakat, sekolah, dan pengelola perpustakaan.
Ia menilai kondisi geografis Natuna yang terdiri atas banyak pulau menjadi tantangan tersendiri dalam pemerataan akses masyarakat terhadap sumber pengetahuan. Karena itu, keberadaan perpustakaan umum dan perpustakaan desa perlu terus diperkuat agar masyarakat, termasuk yang tinggal di wilayah terpencil, memperoleh kesempatan yang sama untuk belajar dan mengembangkan kemampuan.
“Kondisi geografis Natuna yang merupakan wilayah kepulauan tentu menjadi tantangan dalam menghubungkan masyarakat dengan sumber-sumber pengetahuan. Karena itu, peran perpustakaan di Natuna, termasuk perpustakaan desa, sangat penting,” ujar Joko.

Ia mengaku terkesan melihat perkembangan perpustakaan desa di Natuna, termasuk perpustakaan di Air Lengit, Selemam dan Sepempang. Menurutnya, keterlibatan pemerintah desa dalam menyediakan fasilitas dan mengembangkan kegiatan perpustakaan merupakan langkah positif yang perlu dipertahankan.
Joko juga mendorong agar perpustakaan tidak hanya menjadi tempat meminjam dan membaca buku, tetapi berkembang menjadi pusat kegiatan masyarakat melalui berbagai program pendidikan dan pemberdayaan.
Program tersebut dapat mencakup pelatihan komputer, pembelajaran bahasa Inggris, pengembangan keterampilan, hingga kegiatan berbasis kebutuhan ekonomi masyarakat.
“Perpustakaan harus menjadi ruang publik yang terbuka bagi siapa saja untuk terus belajar. Meskipun seseorang sudah tidak lagi berada di bangku sekolah, kebutuhan untuk menambah pengetahuan dan mengembangkan diri tetap penting,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya penguatan literasi digital bagi generasi muda di tengah pesatnya perkembangan teknologi. Menurutnya, penggunaan perangkat digital harus diimbangi kemampuan memahami, mengolah dan memanfaatkan informasi secara tepat.
Selain itu, perpustakaan dapat berperan dalam menjaga nasionalisme dan melestarikan kearifan lokal melalui berbagai kegiatan yang mengenalkan budaya daerah kepada generasi muda.
Dalam kesempatan tersebut, Joko turut mendorong peningkatan kapasitas kelembagaan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Natuna agar mampu menjangkau kebutuhan masyarakat yang tersebar di berbagai pulau.
Ia menilai penguatan organisasi diperlukan, terutama untuk meningkatkan pembinaan perpustakaan di seluruh wilayah Natuna serta memperbaiki layanan pengembangan dan pelestarian koleksi.
Menurutnya, naskah-naskah Nusantara dan kekayaan budaya lokal juga perlu dirawat serta dikembangkan ke dalam bentuk bacaan yang lebih menarik dan mudah dipahami generasi muda.
Joko menyampaikan bahwa Perpusnas akan melakukan asesmen ulang terhadap akreditasi perpustakaan di Natuna. Tim Perpusnas direncanakan berkunjung pada November 2026 untuk melakukan penilaian tersebut, dengan harapan kualitas layanan perpustakaan dapat meningkat hingga mencapai akreditasi A.
Ia juga membuka peluang dukungan lanjutan melalui program-program Perpusnas, termasuk transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial dan pengembangan sarana fisik sesuai dengan program serta ketersediaan anggaran.
Bupati Natuna, Cen Sui Lan menyampaikan apresiasi kepada Perpustakaan Nasional RI, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Natuna, serta seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya festival tersebut.
Cen menilai dukungan Perpusnas telah memberikan manfaat nyata, salah satunya melalui pembangunan gedung perpustakaan yang representatif untuk menunjang pelayanan dan kegiatan literasi masyarakat.
Cen berharap dukungan pemerintah pusat dapat terus berlanjut agar pengembangan literasi di Natuna semakin luas dan menjangkau masyarakat hingga ke pelosok desa.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Natuna, kami menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan serta seluruh pihak yang telah mendukung kegiatan ini.
Kehadiran Perpusnas menjadi kehormatan sekaligus motivasi bagi kami untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan perpustakaan dan pengembangan literasi,” kata Cen.
Ia menegaskan, pemerataan akses pendidikan dan pengetahuan menjadi tantangan tersendiri bagi Natuna yang memiliki wilayah kepulauan dengan jarak antarpulau cukup jauh.
Kondisi tersebut membuat sebagian masyarakat, terutama anak-anak di wilayah terpencil, memiliki keterbatasan dalam mengakses sarana pendidikan, hiburan, dan sumber bacaan.
Karena itu, Cen mengajak pemerintah desa untuk mengambil peran lebih aktif dalam membangun dan mengembangkan perpustakaan desa dengan memanfaatkan sumber pendanaan yang sesuai ketentuan dan kemampuan masing-masing desa.
“Kita mengetahui kondisi geografis Natuna yang terdiri atas banyak pulau dengan jarak yang cukup jauh. Kita berharap budaya membaca dan kegiatan literasi dapat menjangkau daerah-daerah terpencil sehingga anak-anak kita memiliki kesempatan lebih luas untuk memperoleh pengetahuan,” ujarnya.
Cen juga mengusulkan agar penyelenggaraan Festival Literasi pada tahun mendatang dikembangkan dengan skala yang lebih besar, bahkan dipusatkan di kawasan Pantai Piwang yang menjadi salah satu ikon kegiatan masyarakat Natuna.
Dengan lokasi yang lebih terbuka, ia berharap kegiatan literasi dapat menjangkau lebih banyak warga dan menjadi bagian dari agenda publik yang menarik bagi masyarakat dari berbagai kalangan.
Ia turut mendorong pengembangan kegiatan yang melibatkan toko buku dan berbagai pihak terkait agar akses masyarakat terhadap bahan bacaan semakin beragam. Hal tersebut dinilai penting mengingat keterbatasan akses terhadap toko buku di Natuna.
Literasi sebagai Investasi Masa Depan Natuna
Lebih lanjut, Cen menegaskan bahwa pembangunan budaya literasi bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah daerah atau pengelola perpustakaan, melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh unsur masyarakat.
Pemerintah daerah, menurutnya, akan terus mendorong penguatan budaya membaca, pengembangan perpustakaan, serta penyelenggaraan kegiatan edukatif yang melibatkan pelajar, generasi muda, komunitas, dan masyarakat umum.
Ia berharap Festival Literasi ke-III tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi mampu menumbuhkan kebiasaan membaca dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari.
“Keberhasilan membangun budaya literasi merupakan tanggung jawab kita bersama. Dengan kerja sama dan komitmen seluruh pihak, saya yakin literasi di Kabupaten Natuna dapat berkembang dan memberikan manfaat nyata bagi kemajuan daerah,” tuturnya.
Melalui festival tersebut, Pemerintah Kabupaten Natuna berharap perpustakaan semakin berperan sebagai pusat pembelajaran sepanjang hayat, ruang pengembangan kreativitas, sekaligus sarana pelestarian budaya lokal.
Dengan akses literasi yang semakin merata, Natuna diharapkan mampu melahirkan generasi yang cerdas, berwawasan luas, berkarakter, dan siap berkontribusi bagi pembangunan daerah maupun bangsa. (KG/IK)
