09/10/2026
IMG-20261008-WA0025(1)

NATUNA – Pemerintah Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, memperkuat upaya pelestarian budaya daerah dengan menggelar Karnaval Budaya bertema “Harmoni Budaya di Lantai Samudra”.

Kegiatan yang dijadwalkan berlangsung Minggu (10/10/2026) tersebut tidak sekadar menjadi ajang hiburan masyarakat.

Pemerintah daerah menjadikannya sebagai ruang untuk mengenalkan kekayaan budaya Natuna sekaligus menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap warisan leluhur.

Kepala Bidang Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Natuna, Hadisun mengatakan pelestarian budaya harus dilakukan secara berkelanjutan agar tidak terputus oleh perubahan zaman.

Pesan tersebut, kata dia, sejalan dengan perhatian Bupati Natuna Cen Sui Lan terhadap keberlangsungan budaya daerah.

“Budaya harus dilestarikan dan tidak boleh hilang dimakan waktu,” ujar Hadisun menyampaikan pesan Bupati Natuna kepada wartawan, Kamis (8/10/2026).

Menurut Hadisun, generasi muda menjadi salah satu kelompok penting dalam upaya menjaga keberadaan budaya. Karena itu, pemerintah perlu memberikan ruang agar anak-anak muda tidak hanya mengenal budaya, tetapi juga terlibat dalam melestarikannya.

“Kegiatan ini kita lakukan agar generasi muda, anak bangsa, tetap menghargai budaya kita,” katanya.

Hadisun menjelaskan, tema “Harmoni Budaya di Lantai Samudra” memiliki makna yang erat dengan karakter Natuna.

“Harmoni budaya menggambarkan keberagaman budaya masyarakat Natuna yang hidup berdampingan. Sementara lantai samudra menggambarkan posisi Natuna sebagai wilayah kepulauan yang kehidupan masyarakatnya memiliki hubungan kuat dengan laut. Natuna ini hidup di lantai samudra yang sudah ada lebih dari 100 juta tahun,” ujarnya.

Menurutnya, kekayaan alam dan budaya tersebut menjadi bagian penting dalam memperkuat identitas Natuna, termasuk mendukung langkah daerah menuju UNESCO Global Geopark (UGGp).

Karena itu, kebudayaan tidak boleh hanya muncul dalam kegiatan seremonial. Pemerintah ingin budaya menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dan terus dikenal oleh generasi muda.

Karnaval tahun ini menggunakan konsep berbeda dibandingkan pelaksanaan sebelumnya. Jika sebelumnya peserta mengikuti kegiatan dalam kelompok, tahun ini peserta tampil secara perorangan.

Perubahan konsep dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai agenda sekolah sehingga tidak semua pelajar dapat mengikuti kegiatan secara berkelompok. Karnaval dijadwalkan dimulai pukul 06.30 WIB.

Peserta akan dinilai oleh juri lokal berdasarkan sejumlah aspek, mulai dari desain kostum, kreativitas, ide, atraksi hingga kesesuaian dengan tema yang diusung. “Kita kembangkan terkait budaya Melayu,” kata Hadisun.

Ia menegaskan, budaya Natuna memiliki cakupan yang sangat luas. Tidak hanya pakaian tradisional dan kesenian, tetapi juga meliputi adat istiadat, bahasa, tradisi lisan, ritual, pengetahuan tradisional, permainan rakyat hingga olahraga tradisional.

Dalam karnaval tersebut, pengenalan budaya akan dilakukan melalui kostum yang merepresentasikan kekayaan budaya daerah. Hadisun menyebut terdapat 15 jenis kebudayaan tak benda, di antaranya manuskrip, tradisi lisan, ritual, adat istiadat, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, seni, bahasa, permainan rakyat dan olahraga tradisional.

Selain warisan budaya tak benda, Natuna juga memiliki warisan budaya benda yang masuk dalam kategori cagar budaya, seperti situs, struktur, bangunan dan kawasan. Untuk mendorong partisipasi masyarakat, Pemkab Natuna menyiapkan hadiah yang bersumber dari APBD.

Juara pertama mendapatkan Rp9 juta dan piala, juara kedua Rp7 juta dan piala, sedangkan juara ketiga memperoleh Rp5 juta dan piala. Juara harapan I mendapatkan Rp3 juta, juara harapan II Rp2 juta. Selain itu, terdapat penghargaan bagi 10 peserta terbaik, masing-masing senilai Rp1 juta.

Meski demikian, Hadisun menegaskan hadiah bukan tujuan utama penyelenggaraan karnaval. Tujuan utamanya adalah pembinaan dan pengembangan kebudayaan sekaligus membuka ruang bagi masyarakat untuk ikut menjaga identitas daerah.

“Tujuan kegiatan ini pengembangan kebudayaan, pembinaan. Intinya pemerintah ingin budaya ini tidak hilang dimakan zaman,” tegasnya.

Masyarakat yang ingin berpartisipasi masih diberikan kesempatan untuk mendaftarkan diri melalui kontak panitia atau datang langsung ke Museum Sri Serindit. Pendaftaran dibuka hingga Sabtu pagi.

Hadisun mengakui pelaksanaan kegiatan budaya menghadapi sejumlah kendala, terutama keterbatasan anggaran di sekolah. Sejumlah sekolah juga memiliki agenda internal yang bertepatan dengan pelaksanaan karnaval. Namun, kondisi tersebut tidak menyurutkan komitmen pemerintah daerah untuk menjaga keberlangsungan budaya Natuna.

Bagi Pemkab Natuna, budaya merupakan bagian dari pembangunan daerah yang tidak kalah penting dengan pembangunan infrastruktur dan ekonomi.

Sebab, identitas sebuah daerah tidak hanya dibentuk oleh pembangunan fisik, tetapi juga oleh sejarah, tradisi, adat istiadat dan nilai-nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Melalui Karnaval Budaya, Pemkab Natuna ingin memastikan warisan budaya tidak berhenti sebagai cerita masa lalu.

Budaya Melayu dan kekayaan budaya Natuna harus tetap hidup, dikenal, dicintai dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Sebab, ketika budaya mulai dilupakan, yang perlahan hilang bukan hanya sebuah tradisi, tetapi juga jati diri sebuah daerah. (KG/IK)