28/07/2026
IMG_20260728_070214

Jakarta, — Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Hukum dan HAM, Sarana/Prasarana Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, M. Azis Syamsuddin menilai banyak pulau di Indonesia yang memiliki lahan luas namun belum dimanfaatkan optimal untuk sektor pertanian dan usaha lainnya. Akibatnya, kebutuhan di daerah-daerah tersebut masih dipasok dari Jawa.

“Di sini pentingnya untuk mendatangkan transmigran,” ujar Azis Syamsuddin saat beraudensi dengan Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi di Gedung Makarti, Kantor Kementerian Transmigrasi (Kementrans), Kalibata, Jakarta, Senin (27/7/2026).

Viva Yoga menyambut baik dukungan dari jajaran Kadin terhadap pentingnya program transmigrasi. Ia menegaskan pola pelaksanaan transmigrasi saat ini telah berbeda dengan era Orde Baru.

“Dulu program transmigrasi bersifat sentralistik, top down. Program ditetapkan langsung oleh pemerintah pusat,” jelas Viva Yoga.
“Sekarang dilaksanakan secara desentralisasi, bottom up. Ada transmigrasi bila ada permintaan dari daerah yang membutuhkan,” ucapnya.

Meski menggunakan skema bottom up, animo daerah terhadap transmigrasi tetap tinggi. Hingga saat ini Kementrans telah menerima 61 proposal dari para bupati yang mengusulkan pembukaan kawasan baru transmigrasi.

“Meski ada daerah yang sudah memiliki kawasan transmigrasi namun mereka tetap ingin di daerahnya ada kawasan baru,” papar Viva Yoga.

154 Kawasan Transmigrasi Jadi Pusat Pertumbuhan Ekonomi Baru

Tingginya permintaan tersebut, menurut Viva Yoga, karena program yang dicanangkan Presiden Soekarno ini terbukti mampu menciptakan kawasan pertumbuhan ekonomi baru di berbagai pulau di luar Jawa.

Saat ini Indonesia memiliki 154 kawasan transmigrasi prioritas nasional. Masing-masing kawasan memiliki potensi unggulan yang berbeda. Di Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi, potensi unggulannya kelapa sawit. Di Banyuasin, Sumatera Selatan, unggul di komoditas padi. Sementara di Sulawesi Tengah berkembang kakao, kopi, pala, dan durian. Di kawasan pesisir, potensi perikanan juga sangat melimpah.

Potensi unggulan itu sudah diproduksi secara massal, mulai dari skala usaha kecil, menengah, hingga ekspor. “Dari kawasan transmigrasi Sulawesi Tengah, ada transmigran yang menjalankan produk kopi dan coklat rumahan yang produknya bisa dibanggakan. Produk rumahan itu kerap dijadikan oleh-oleh,” ujarnya.

Produk dari kawasan transmigrasi bahkan telah menembus pasar ekspor China, Amerika Serikat, dan negara lainnya. “Bapak Menteri Transmigrasi secara resmi telah mengekspor durian dari kawasan di Sulawesi Tengah ke China. Nilainya sangat tinggi, ekspor 459 ton dengan nilai Rp42,5 miliar,” ungkap Viva Yoga.

Ia juga menyebut telah memfasilitasi ekspor rajungan ke Amerika Serikat dengan volume sekitar 16 ton senilai Rp14 miliar hingga Rp15 miliar. “Rajungan tersebut diambil dari kawasan transmigrasi yang ada di Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, Maluku Utara, dan Papua Barat,” ujarnya.

Ajak Kadin Investasi dan Sinergi Bangun Kawasan Transmigrasi

Viva Yoga menyampaikan, masih banyak potensi unggulan lain yang bisa diekspor namun membutuhkan sentuhan investasi agar komoditas tidak stagnan.

“Perlu ada investasi agar komoditas yang ada tidak stagnan,” ucapnya.
Untuk itu ia mengajak Kadin untuk melakukan investasi atau berbisnis dengan berbagai skala di kawasan transmigrasi. Menurutnya, Kadin memiliki jaringan yang sangat luas hingga ke tingkat pusat, provinsi, dan kabupaten/kota.

“Kementrans dalam membangun kawasan transmigrasi tidak bisa sendirian. Selama ini kami telah bersinergi tidak hanya dengan pemerintah, tetapi juga dengan perusahaan swasta. Kementrans telah melakukan sinergi dengan PNM, pengusaha dari China, dan para offtaker,” ungkapnya.

“Sekarang Kadin perlu melakukan hal yang sama untuk ikut mengembangkan kawasan transmigrasi,” tambah pria asal Lamongan, Jawa Timur, itu.