24/09/2026
Nelayan

Pertemuan antara pihak perusahaan dengan kelompok nelayan, saat membahas dana kompensasi. (F: MK)

BATAM – Pembangunan infrastruktur strategis di Kota Batam terus berjalan tanpa mengesampingkan urat nadi kehidupan masyarakat pesisir. Sebagai wujud nyata kepedulian terhadap kelestarian biota laut yang menjadi sumber mata pencaharian nelayan, PT Lafrieta Bahari Utama bersama PT Trans Indonesia Superkoridor telah merampungkan penyaluran dana kompensasi kepada masyarakat pesisir terdampak.

​Dana Corporate Social Responsibility (CSR) ini disalurkan langsung kepada 9 Kelompok Usaha Bersama (KUB) nelayan yang beroperasi di wilayah Tanjung Bemban, Kelurahan Batu Besar, Kecamatan Nongsa. Langkah ini beriringan dengan pelaksanaan proyek strategis pemasangan kabel optik bawah laut di perairan tersebut.

​Person in Charge (PIC) PT Lafrieta Bahari Utama, Farizal, menuturkan bahwa kesepakatan kompensasi ini diraih setelah melalui proses musyawarah dan negosiasi yang cukup alot. Meski demikian, titik temu tersebut membuktikan bahwa perusahaan menempatkan kelestarian ekosistem dan kesejahteraan nelayan sebagai prioritas yang sejajar dengan target kelancaran proyek.

​”Penyaluran dana kompensasi ini merupakan bentuk komitmen perusahaan dari sisi CSR. Kami tetap berpihak pada kelestarian biota laut sebagai habitat sekaligus ruang hidup dan mata pencaharian nelayan kita,” jelas Farizal kepada awak media.

​Farizal juga menekankan bahwa proyek pemasangan kabel bawah laut ini merupakan lompatan strategis untuk membawa Batam menjadi kota yang semakin maju dan terhubung. Oleh karena itu, sinergi yang harmonis dengan masyarakat sekitar mutlak diperlukan.

​Dengan selesainya dinamika musyawarah dan disalurkannya dana tersebut ke 9 KUB, Farizal menaruh harapan besar agar pembangunan ini mendapat pengawalan dan dukungan dari seluruh lapisan.

​”Kami berharap agar proyek strategis ini terus didukung oleh semua pihak, terutama nelayan setempat, organisasi profesi nelayan yakni Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) dan Himpunan Masyarakat Nelayan Indonesia (HMNI), serta seluruh stakeholders,” pungkasnya.

​Melalui penyaluran ini, perusahaan berharap tidak ada pihak yang merasa ditinggalkan, sehingga kemajuan teknologi di Kota Batam bisa berjalan selaras dengan terjaganya ekosistem bahari dan ekonomi kerakyatan. KG/R