LINGGA – Kelangkaan minyak tanah yang terjadi dalam beberapa minggu terakhir mulai dikeluhkan masyarakat Kecamatan Lingga, Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau. Bahan bakar yang selama ini menjadi salah satu kebutuhan warga untuk memasak itu semakin sulit ditemukan, sementara harga elpiji nonsubsidi juga dirasakan semakin mahal.
Bagi sebagian masyarakat, minyak tanah masih menjadi kebutuhan penting dalam aktivitas sehari-hari, terutama untuk memasak dan menunjang usaha kecil. Ketika pasokan sulit ditemukan, warga terpaksa mencari dari satu tempat ke tempat lain untuk mendapatkan minyak tanah.
Ketua Kuliner Kecamatan Lingga, Hermadi, mengatakan kesulitan mendapatkan minyak tanah sudah dirasakan masyarakat dalam beberapa minggu terakhir. Informasi yang berkembang menyebutkan pasokan belum tiba, namun masyarakat belum mengetahui secara pasti penyebab tersendatnya distribusi.
“Sekarang masyarakat kesulitan mendapatkan minyak tanah. Mereka harus berkeliling mencari ke mana masih ada stok. Minyak tanah ini dibutuhkan untuk keperluan rumah tangga sehari-hari,” kata Hermadi, Rabu (26/8/2026).
Menurut dia, kondisi tersebut tidak hanya dirasakan rumah tangga, tetapi juga dapat berdampak terhadap pelaku usaha kuliner yang membutuhkan bahan bakar untuk menjalankan aktivitas usahanya.
Situasi semakin memberatkan karena masyarakat harus mempertimbangkan penggunaan elpiji nonsubsidi yang harganya dinilai cukup tinggi. Sementara itu, elpiji subsidi 3 kilogram yang menjadi pilihan masyarakat di banyak daerah disebut belum beredar secara memadai di Kecamatan Lingga.
“Di Lingga memang ada subsidi minyak tanah. Sementara gas 3 kilogram belum beredar atau belum ada distributornya. Dengan harga gas 12 kilogram yang melonjak, kami berharap gas 3 kilogram bisa menjadi salah satu solusi bagi masyarakat Lingga,” ujarnya.
Hermadi meminta Pemerintah Kabupaten Lingga bersama instansi terkait segera memastikan penyebab kelangkaan minyak tanah dan mengambil langkah untuk menormalkan kembali distribusinya.
Selain itu, pemerintah diharapkan dapat mengkaji kemungkinan distribusi elpiji subsidi 3 kilogram ke wilayah Lingga sebagai alternatif energi yang lebih terjangkau bagi masyarakat.
Bagi warga, persoalan tersebut menyangkut kebutuhan paling mendasar: memastikan dapur tetap menyala.
Setelah beberapa minggu kesulitan memperoleh minyak tanah, masyarakat berharap ada langkah konkret agar mereka tidak terus berkeliling mencari stok di tengah meningkatnya beban kebutuhan sehari-hari.
Masyarakat kini menanti kepastian pasokan sekaligus solusi jangka panjang dari pemerintah dan pihak terkait agar kebutuhan energi rumah tangga maupun pelaku usaha kecil di Kecamatan Lingga tetap terpenuhi. (kg/as)
