NATUNA – Upaya menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, ramah, dan bebas dari perundungan (bullying) terus digencarkan jajaran Kepolisian Republik Indonesia. Melalui pendekatan edukatif, Bhabinkamtibmas Kelurahan Bandarsyah, Brigadir Ozzy Agus Syahputra, mengajak ratusan pelajar SMP IT Natuna Insan Qur’ani untuk berani menolak segala bentuk perundungan sejak dini, Jumat (17/7/2026).
Penyuluhan yang berlangsung di lingkungan sekolah tersebut menjadi bagian dari langkah preventif Polri dalam membangun karakter generasi muda sekaligus meningkatkan kesadaran pelajar terhadap bahaya bullying yang masih menjadi salah satu persoalan di dunia pendidikan.
Di hadapan para siswa, Brigadir Ozzy menjelaskan bahwa perundungan bukan sekadar tindakan bercanda, melainkan perilaku yang dapat melukai fisik maupun psikis korban. Bullying dapat terjadi dalam berbagai bentuk, mulai dari kekerasan fisik, ejekan dan penghinaan secara verbal, pengucilan, hingga perundungan melalui media sosial yang kini semakin marak terjadi.
“Setiap tindakan yang dilakukan secara sengaja untuk menyakiti, merendahkan, atau mengintimidasi orang lain merupakan bentuk bullying dan memiliki dampak yang sangat serius,” jelasnya.
Ia menegaskan, korban bullying berpotensi mengalami hilangnya rasa percaya diri, stres berkepanjangan, trauma, penurunan prestasi belajar, hingga gangguan kesehatan mental. Karena itu, perundungan tidak boleh dianggap sebagai hal yang lumrah atau sekadar candaan antarteman.
Tak hanya berdampak bagi korban, Brigadir Ozzy juga mengingatkan bahwa pelaku bullying dapat dikenai sanksi sesuai aturan yang berlaku. Selain pembinaan dari pihak sekolah, tindakan yang memenuhi unsur pidana juga dapat diproses berdasarkan ketentuan hukum.
Dalam kesempatan tersebut, para siswa didorong untuk tidak takut berbicara apabila menjadi korban maupun menyaksikan aksi perundungan. Mereka diminta segera melaporkan kepada guru, wali kelas, atau pihak sekolah agar persoalan dapat diselesaikan sedini mungkin sebelum berkembang menjadi tindakan yang lebih serius.
Lebih jauh, Brigadir Ozzy mengajak seluruh peserta didik membangun budaya saling menghargai, menghormati perbedaan dan mempererat persaudaraan di lingkungan sekolah. Sebagai lembaga pendidikan berbasis Islam, para siswa diharapkan mampu mengamalkan nilai-nilai akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari dengan menjunjung tinggi sopan santun, kepedulian, serta kasih sayang terhadap sesama.
Melalui edukasi ini, Polri berharap lahir generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter yang kuat, peduli terhadap sesama, serta berani menjadi pelopor dalam menghentikan praktik bullying di lingkungan sekolah.
Sinergi antara kepolisian, sekolah, guru, orang tua dan peserta didik diyakini menjadi fondasi penting dalam mewujudkan dunia pendidikan yang aman, nyaman dan kondusif, sehingga setiap anak dapat belajar, tumbuh, dan berkembang tanpa rasa takut. (KG/IK)
