01/08/2026
IMG_20260801_092934

NATUNA – Semangat nasionalisme mulai berkobar di Kabupaten Natuna. Sebanyak 33 Calon Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Kabupaten Natuna Tahun 2026 resmi memasuki masa pembinaan melalui Upacara Tradisi Tantengan yang digelar Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Natuna di halaman Natuna Hotel, Sabtu (1/8/2026).

Upacara yang dipimpin langsung oleh Kepala Badan Kesbangpol Kabupaten Natuna, Helmi Wahyuda menjadi gerbang awal perjalanan para putra-putri terbaik Natuna menuju tugas mulia sebagai pengibar Sang Saka Merah Putih pada Upacara Peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Lebih dari sekadar seremoni, Tradisi Tantengan merupakan prosesi sakral yang menandai dimulainya pembentukan karakter, mental, disiplin dan jiwa kepemimpinan para calon Paskibraka. Momentum ini menjadi fondasi awal bagi lahirnya generasi muda yang tangguh, berintegritas, serta memiliki rasa cinta tanah air yang kuat.

Dalam suasana penuh khidmat, seluruh peserta diajak melakukan refleksi diri. Mereka diajak memahami bahwa amanah sebagai Paskibraka bukan hanya tentang mengibarkan bendera di tiang tertinggi, melainkan menjadi simbol keteladanan bagi generasi muda Indonesia.

Setiap calon Paskibraka dituntut memiliki integritas, kedisiplinan, tanggung jawab, semangat gotong royong, serta kesiapan mengabdi kepada bangsa dan negara.

Kepala Badan Kesbangpol Kabupaten Natuna, Helmi Wahyuda, menegaskan bahwa status sebagai Paskibraka merupakan kehormatan besar yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab.

“Menjadi Paskibraka adalah sebuah kehormatan sekaligus amanah. Karena itu, setiap peserta harus mengikuti seluruh proses pembinaan dengan sungguh-sungguh, menjaga disiplin, menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila, serta mampu menjadi teladan di lingkungan sekolah maupun masyarakat,” tegas Helmi.

Usai prosesi refleksi, para peserta memasuki Gerbang Desa Bahagia secara bergiliran. Prosesi ini menjadi simbol dimulainya kehidupan pembinaan yang menanamkan nilai-nilai luhur Pancasila, memperkuat jiwa kebangsaan, membangun semangat gotong royong, serta membentuk pribadi yang berintegritas dan berkarakter.

Suasana haru semakin terasa saat seluruh peserta mengikuti prosesi penyiraman air kembang tujuh rupa. Tradisi tersebut dimaknai sebagai simbol penyucian diri, doa untuk keselamatan, sekaligus harapan agar seluruh rangkaian pendidikan dan pelatihan dapat dijalani dengan lancar hingga hari pengukuhan.

Prosesi ini juga menjadi pengingat bahwa seorang Paskibraka harus memiliki hati yang bersih, niat yang tulus, mental yang tangguh, dan kesiapan penuh dalam mengemban amanah negara.

Melalui rangkaian Tradisi Tantengan, para calon Paskibraka kini resmi memasuki fase pembinaan intensif yang akan mengasah kemampuan fisik, membentuk mental baja, meningkatkan disiplin, memperkuat kepemimpinan, serta menanamkan nilai-nilai nasionalisme yang menjadi identitas seorang Paskibraka.

Pemerintah Kabupaten Natuna berharap seluruh peserta mampu menyelesaikan setiap tahapan pembinaan dengan baik, sehingga lahir putra-putri terbaik daerah yang tidak hanya sukses mengibarkan Sang Saka Merah Putih pada HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, tetapi juga tumbuh menjadi generasi emas yang mampu menginspirasi, memimpin, dan berkontribusi bagi kemajuan Kabupaten Natuna serta Indonesia di masa depan.

Tradisi Tantengan menjadi pengingat bahwa merah putih bukan sekadar bendera yang dikibarkan setiap 17 Agustus. Di balik kibaran itu, ada proses panjang membentuk karakter, menguatkan mental, dan menumbuhkan kecintaan kepada bangsa. Dari Natuna, semangat patriotisme itu kembali disemai melalui tangan-tangan generasi muda yang kelak akan menjadi kebanggaan daerah dan Indonesia. (KG/IK)