Pengusaha Depot Air Minum Kota Batam Laporkan Persaingan Tidak Sehat ke DPRD

Pengurus Dewan Pimpinan Cabang Perkumpulan Dunia Air Minum Indonesia bertemu dengan Ketua DPRD Batam, Selasa (28/11/2023). (Foto: doc)

BATAM – Pengusaha depot air minum di Kota Batam, yang tergabung dalam Pengurus Dewan Pimpinan Cabang Perkumpulan Dunia Air Minum Indonesia (DPC Perdamindo), menyuarakan ketidaknyamanan mereka terhadap serangan dari pengusaha air minum skala besar. Keluhan ini disampaikan dalam pertemuan bersama DPRD Batam pada Selasa (28/11/2023).

Togi Siahaan, Ketua DPC Perdamindo Kota Batam, mengungkapkan penurunan drastis dalam usaha mereka karena persaingan dengan pengusaha air minum skala besar yang menawarkan harga yang relatif sama. Dalam pertemuan tersebut, mereka mengusulkan kepada Pemerintah Kota Batam untuk mengeluarkan regulasi yang melindungi usaha kecil di Kota tersebut.

“Harga yang kami jual saat ini sudah minim, Rp 5 ribu per galon. Kami meminta kepada pemerintah membuat regulasi harga serta regulasi distribusi ke pelanggan,” ujar Togi Siahaan.

Ketua DPRD Kota Batam, Nuryanto, menanggapi keluhan tersebut dan berkomitmen untuk melakukan mediasi antara pengusaha depot air minum dan pihak terkait, termasuk Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag), Dinas Kesehatan (Dinkes), dan PTSP (Pelayanan Terpadu Satu Pintu). DPRD akan menjadi penyambung lidah dan memfasilitasi agar keluhan masyarakat dapat didengar dan diatasi.

Nuryanto juga menyadari bahwa banyak pelaku usaha air minum skala kecil yang gulung tikar akibat persaingan dengan pengusaha besar. Dia menekankan perlunya perlindungan hukum dan regulasi yang jelas terkait usaha kecil di bidang air minum.

“Sampai sejauh ini belum ada aturan melarang. Sama-sama berusaha. Namun, muncul aspirasi dari masyarakat bahwa pengusaha besar masuk ke wilayah dan membunuh usaha mikro. Ini yang harus menjadi perhatian. Semangatnya usaha besar berjalan, usaha mikro juga harus bisa berjalan,” ungkap Nuryanto. KG/MK